TRIDAKNAS HIMAPIKANI 2013

TRIDAKNAS HIMAPIKANI 2013

 (TRAINING DASAR ADVOKASI DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL)

 Oleh : Restu Putri Astuti

Ketua LKP Universitas Muhammadiyah Malang

 

            TRIDAKNAS HIMAPIKANI merupakan rangkaian kegiatan HIMAPIKANI bekerjasama dengan LKP Universitas Djuanda Bogor yang dilaksanakan pada tanggal 11-14 Maret 2013. Tridaknas yang mengusung tema “Menciptakan SDM yang Berjiwa Wirausaha Berbasis Perikanan Sebagai Kontribusi Pembangunan Ekonomi Nasional”. Diharapkan Mahasiswa dapat meningkatkan kualitas diri, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengkritisi kebijakan, dan menciptakan inovasi baru serta mengaplikasikannya dalam langkah nyata. Sebagai langkah nyata mahasiswa dapat memajukan perikanan nasional dengan merintis usaha perikanan inovatif yang berkelanjutan dan mengembangkan jaringan kerja antar profesional muda. sektor swasta merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, kewirausahaan atau kewiraswastaan mempunyai peran penting dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional di bidang perekonomian khususnya dalam sektor kelautan dan perikanan. Kegiatan Tridaknas HIMAPIKANI mendapat sambutan yang luar biasa Kelautan dan Perikanan beserta beberapa dinas terkait untuk ikut mensukseskan kegiatan ini. Tak terlepas dari itu, partisipasi dari kawan-kawan LKP se-Indonesia untuk ikut berperan aktif. Universitas Muhammadiyah Malang mengirimkan 6 orang delegasi yaitu Restu Putri Astuti, Tiyok Susanto, Hamdi Rosyidi, Ghufron Affandy dan Moh. Qosyim Ayyubi.

Rangkaian kegiatan TRIDAKNAS HIMAPIKANI 2013 meliputi

Hari pertama, Senin 11 Maret 2013

Seminar Nasional Perikanan

Seminar nasional perikanan berupa diskusi panel antara Kepala BPSDM KP Bapak Dr. Suseno Sukoyo dan Dirjen Perikanan Budidaya Bapak Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si. Kegiatan seminar diadakan di Aula Gedung C Universitas Djuanda Bogor yang diikuti hampir 200 orang yang memenuhi ruangan. Jumlah delegasi 24 LKP (Lembaga Kemahasiswaan Perikanan( dengan 70 orang mahasiswa utusannya. Materi pertama dipaparkan oleh Kepala BPSDM KP Bapak Dr. Suseno Sukoyo yang mengusung tema “Peningkatan SDM sektor Perikanan Mendukung Perekonomian Nasional”. Inti dari penyampaian beliau adalah jika ditanya What is a fishery? The resource, the habitat and the people involved. Karena sebagai mahasiswa perikanan haruslah mengerti dan memahami apa itu perikanan. Lebih lanjut yang ditekankan oleh Kepala BPSDM, SDM sebagai ujung tombak kemajuan perikanan. Tidak mungkin suatu bangsa bisa berdaya saing jika SDM (sumberdaya manusia) tidak berkualitas. Menurut data survey yang dilakukan UNDP (2011), Indonesia bertengger pada posisi 124 dari 187 negara dalam rangking Indeks Pembangunan Manusia (IPM=Human Development Index). BPSDM sebagai lembaga pengembangan sumberdaya manusia kelautan dan perikanan melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan diharapkan perlahan tapi pasti akan menciptakan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. Progam unggulan yang dimiliki BPSDM seperti pembentukan P2MKP, diklat pelatihan, dan pembentukan kelompok suluh dan masih banyak lagi.  Beliau juga menandaskan Menteri KP menetapkan  Minapolitan, Industrialisasi, dan ekonomi biru (blue economy) sebagai pilar dasar paradigma pembangunan KP 2013-2014 memperhatikan faktor kawasan, modernisasi, dan lingkungan  dengan pendekatan KKP incorporated yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan perikanan dan kelautan di Indonesia.

Diskusi kedua dipaparkan oleh Dirjen Perikanan Budidaya Bapak Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si dengan tema Kebijakan Pembangunan Perikanan Budidaya & Peluang Usaha Perikanan” . Disingkatnya waktu yang tersedia beliau memamaparkan Aquaculture sebagai masa depan perikanan Indonesia karena tingkat pemanfaataan yg masih rendah jika dibandingkan dg produksi penangkapan yang stagnan. Perikanan budidaya dipusatkan didaerah minapolitan berbasis industrialisasi dengan pengembangan ekonomi biru. Ekonomi biru merupakan keuntungan atau pertumbuhan perekonomian yang dihasilkan dari perikanan dan kelautan tanpa merusak lingkungan. Beberapa kegiatan ditjen perikanan budidaya antara lain model pembudidayaan ikan melalui demfarm , GENTANADI, CBIB , bisnis akuakultur berbasis Blue Economy (ekonomi biru)-BISA BERSEMI, gerakan penggunaan induk unggul (GAUL), penguatan permodalan dg KUR dan kerjasama dg Perbankan. Pesan Bapak Dirjen Budidaya HIMAPIKANI harus bersinergi dengan KKP untuk kemajuan perikanan dan kelautan dan  mahasiswa mampu melihat peluang usaha perikanan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bukan sebagai “job seeker”. Dalam diskusi panel ini timbul pertanyaan dari kalangan mahasiswa, bagaimana langkah konkrit dari kementrian untuk mengurangi kesenjangan pembangunan di luar Jawa seperti daerah 3T (terluar, tertinggal dan terlantar) serta bagaimana mengatasi destruktif fishing. Untuk mengatasi kesenjangan perekonomian, kementrian bekerjasama dengan PEMDA dan pihak terkait untuk melakukan pembangunan terutama dalam pembangunan infrastruktur dan konektivitas antardaerah. Sedangkan untuk mengatasi destruktif fishing dilakukan IPTEK penangkapan melalui penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan regional.

Ceramah Umum oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Sharif C. Sutardjo yang kali ini berkesempatan hadir dalam kegiatan TRIDAKNAS. Dalam waktu yang relative singkat berkisar 30 menit, tema “Menciptakan Wirausaha Baru  Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Kelautan Dan Perikanan Di Kawasan Minapolitan dengan Industrialisasi Melalui Pendekatan Blue Economy”. Poin-poin penyampaian Bapak Sharif yang menyatakan Indonesia akan menjadi pelaku ekonomi dunia ke 7 pada tahun 2030 dengan salahsatu penopang adalah sektor perikanan (McKinsey Global Institute, 2012). Tentu saja itu menjadi angin segar bagi kita, hanya saja dibutuhkan manajemen yang tepat untuk mencapainya. Tentu saja kita sudah hapal dengan segala potensi perikanan yang dimiliki Indonesia. Mulai dari luas perairan laut 5,8 juta km2, garis pantai terpanjang kedua di dunia 81.290 km beserta 17.504 pulaunya, potensi lestari perikanan tangkap sebesar 6,4 juta ton/tahun, serta perikanan  budidaya yang produksinya sebesar 3,2 juta ton atau baru 12,5% dari total potensinya (DKP, 2008). Dosa besar KKP tidak mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki. Bandingkan saja denga  Cina dengan total produksi 41 juta ton/tahun, Indonesia hanya 8,7 juta ton/tahun. Melalui progam Percepatan industrialisasi  perikanan melalui konsep blue economy akan menghasilkan  US$ 1,2 triliun dengan pengelolaan yang baik. Yang patut kita cermati, apapun nama progam dan bagaimana bentuknya yang digulirkan kementrian sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia (dan kalau bisa secepat-cepatnya dapat dirasakan).

Regulasi berupa Kepres “seluruh zonasi harus dilakukan seijin KKP meliputi 300 kota/kabupaten” agar tidak terjadi tumpang tindih antar sektor di kawasan pesisir. Memang sudah saatnya untuk dirumuskan, lihat saja keadaan pesisir Indonesia yang terkesan kumuh tidak tertata kawasan untuk pemukiman, pelabuhan, industry, rekreasi dan lain-lain yang terlihat carut marut. Blue economy  harus didukung oleh SDM yang berkualitas karena SDM sebagai “otak dan ruh”.  Mahasiswa menjadi pemberi lapangan pekerjaan (enterpreneur) bukan pencari pekerjaan karena KKP siap melakukan progam penyuluhan dan pendanaan dan saat ini perbankan mulai mengucurkan dana untuk perikanan. Mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa  wajib ikut berperan dalam pembangunan terutama kemajuan kelautan dan perikanan. Bapak Sharif C.Sutardjo menantang mahasiswa untuk menjadi enterpreneur di dunia perikanan.

Foto Bersama Bapak Menteri dengan Delegasi LKP se-Indonesia

 

 

Suasana Pelatihan Budidaya Ikan Gurami oleh DejeeFish dan

Pelatihan Pembuatan Pakan oleh KABITA Bogor

Salah satu rangkaian pada kegiatan TRIDAKNAS adalah pelatihan pembenihan ikan air tawar dan pembuatan pakan ikan bagi mahasiswa. Kegiatan pelatihan perikanan nasional selain untuk mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan yang dicanangkan KKP, juga untuk mengurangi angka pengangguran. Selain itu diharapkan melalui kegiatan pelatihan ini dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadi pewirausaha di bidang perikanan. Pelatihan dilakukan oleh pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Dejefish Sukabumi dan P2MKP Koperasi Budidaya Air Tawar (KABITA) Bogor. P2MKP Dejeefish berawal dari kegiatan produksi benih ikan gurame sederhana pada 2006 yang kini telah menjadi perusahaan perikanan air tawar yang terintegrasi. Mulai dari pembenihan, pendederan, pembesaran, jasa pengiriman ikan domestik dan internasional sampai jasa pelatihan budidaya perikanan
air tawar.  P2MKP KABITA Bogor merupakan unit usaha yang bergerak pada usaha pembenihan dan budidaya ikan tawar, terutama komoditas ikan lele. Saat ini P2MKP merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam membantu meningkatkan sasaran masyarakat yang dibantu peningkatan kapasitasnya dalam meningkatkan usaha dan pendapatannya. Kegiatan pelatihan perikanan ini seyogya dapat lebih ditingkatkan melalui kerjasama dengan dinas maupun balai perikanan yang bekerjasama dengan universitas di tiap wilayah agar semakin meningkat keterampilan kami generasi penerus bangsa. Hidup Mahasiswa!

To be continued …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s