Cerita PESISIR HIMAPIKANI

PESISIR HIMAPIKANI 2012

Oleh : Restu Putri Astuti *

            Perjalanan HIMAPIKANI (Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia) menuju 22 tahun usianya sebagai suatu organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang keprofesian yang berkomitmen dan kepedulian pada daerah dan pusat serta membantu progam – progam pemerintah daerah maupun pusat di bidang pelaksanaan dan pengawasan pembangunan , secara umum dan pembangunan Perikanan dan Kelautan pada khususnya. Kegiatan Pekan Aksi dan Seminar Nasional (PESISIR) 2012 yang diadakan oleh Lembaga Kemahasiswaan Perikanan (LKP) Politani Pangkep sebagai anggota HIMAPIKANI menyelenggarakan kegiatan tersebut untuk membantu mempercepat kebijakan “ekonomi biru” yang diusung oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui rangkaian kegiatan di dalamnya. Sebagai mahasiswa yang dikenal sebagai “agent of change” seyogya mengawal kebijakan pemerintah serta membangun sumberdaya manusia yang kontributif dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Dari Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Perikanan mengirimkan 2 delegasi untuk mengikuti kegiatan ini yaitu Restu Putri Astuti (Angkatan 2010) dan Tiyok Susanto (Angkatan 2011).

Rangkaian kegiatan PESISIR HIMAPIKANI 2012 meliputi

Hari pertama, Senin 10 Desember 2012

Penyambutan kawan-kawan LKP se-Indonesia yang disambut dengan “welcome party” yang dibuka oleh wakil direktur Politani Pangkep dan sambutan Sekjen Himapikani Periode 2012-2014 Indar Wijaya beserta penampilan hiburan band kampus. Selanjutnya untuk mempererat rasa kebersamaan antar LKP acara pengenalan LKP se-Indonesia hingga acara diakhiri dengan menyanyi bersama (tentunya bagi yang berminat menyumbangkan suara).

 

 

 

 

 

 

 

Hari kedua, Selasa 11 Desember 2012

Acara seminar nasional perikanan yang mengangkat tema “Transformasi Mindset Masyarakat ke Arah Blue Ekonomi” sebagai topik utama. Ketidakhadiran Bapak Syarif C. Sutardjo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan bukan menjadi penghalang peserta untuk mengikuti seminar ini. Bahkan aula di Politani Pangkep terlihat hampir terisi penuh peserta baik dari kalangan mahasiswa, akademisi, hingga pihak pemerintah daerah ikut pula menyemarakkan agenda ini. Acara ini dibuka dengan tarian khas Makassar  dan Paduan Suara Politani Pangkep , secara resmi dibuka oleh Direktur Politani Pangkep. Selanjutnya sambutan Sekjen Himapikani, Indar Wijaya terlihat cukup diapresiasi oleh peserta seminar karena pernyataannya yang kritis terhadap pemerintah terutama kementrian kelautan dan perikanan dan inilah sepotong kata-kata yang masih saya ingat “kami mahasiswa tidak butuh uang, tetapi kehadiran bapak walaupun 15-30 menit untuk memperhatikan kami”.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Dr. Mawan Hermawan M.Sc (Direktur P2HP/KKP) menilik tema yang diangkat termasuk up to date karena saat ini di lingkup kementrian masih sebatas penggondokan untuk kemudian direalisasikan dalam blue print berupa kebijakan di tahun 2013. Inti dari materi bapak Mawan Hermawan bagaimana penerapan konsep blue economy yang mampu memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal dan berkelanjutan dengan dukungan pengetahuan dan teknologi. Ekonomi biru diharapkan menerapkan inovasi dalam sistem produksi tanpa limbah (zero waste). Salah satu komoditas perikanan unggulan dalam penerapan ekonomi biru adalah rumput laut. Rumput laut relative mudah dibudidayakan hanya dalam waktu 30-45 hari sudah dapat dipanen, biaya investasi kecil, tetapi padat karya (menyerap banyak tenaga kerja). Rumput laut menghasilkan agar-agar, karaginan, dan alginate. Dari ketiga produk tersebut dapat dihasilkan paling tidak 16 produk baru. Tentu saja sebaik apapun konsep dari Pemerintah yang diharapkan adalah mampu berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat perikanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto Pemateri Seminar Nasional Perikanan (kiri ke kanan) : Moderator  – Ibu Rahmawati Fadhillah, S.Pi, M.Si (Direktur Mangrove Action Project) – dr. Dr. Mawan Hermawan M.Sc (Dirjen P2HP/KKP) – Ir. Nasrul Effendi M.Si (Kasie Penerapan Budidaya dan Energi/KKP)

Materi ketiga “upaya restorasi mangrove” dikupas oleh Ibu Rahmawati Fadhillah sebagai direktur mangrove action project. Diawal pembicaraan Ibu Rahmawati menyatakan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem mangrove ternyata tidak diikuti dengan dengan kajian faktor pendukung utama keberhasilan restorasi mangrove, yaitu kajian ekologi mangrove, hidrologi dan gangguan, sehingga upaya tersebut banyak mengalami kegagalan. Tentu saja hal ini baru saya sadari. Selama ini, kegiatan rehabilitasi mangrove yang saya ikuti ternyata hanya “asal-asalan”. Karena saya sendiri pun tidak merasa melakukan yang disebutkan diatas. Lebih lanjut ibu Rahmawati memaparkan  secara ringkas, lima tahap penting untuk kesuksesan restorasi mangrove adalah:

  1. Memahami autekologi (sifat ekologi) masing-masing spesies mangrove, khususnya, pola reproduksi, distribusi bibit dan keberhasilan pembentukan bibit.
  2. Memahami pola hidrologi normal yang mengatur distribusi dan keberhasilan pembentukan serta pertumbuhan sepesies mangrove yang ditargetkan.
  3. Memperkirakan perubahan lingkungan mangrove asli yang menghalangi pertumbuhan alami mangrove.
  4. Disain program restorasi untuk memperbaiki hidrologi yang layak dan jika memungkinkan menggunakan benih alami mangrove untuk melakukan penanaman.
  5. Hanya melakukan penanaman bibit, memungut atau mengolah biji setelah mengetahui angkah alami di atas (langkah a – d) tidak menghasilkan anakan, tingkat stabilitas, atau tingkat pertumbuhan sebagaimana yang diharapkan (Lewis dan Marshall 1997).

Upaya restorasi bertujuan untuk mengembalikan kawasan mangrove yang terdegradasi kembali seperti kondisi alami sebelumnya. Dibutuhkan referensi jenis mangrove yang pernah tumbuh di habitat tersebut untuk menentukan spesies apa yang akan ditanam. Tetapi selama ini hampir semua progam penanaman mangrove hanya merujuk pada satu atau dua jenis mangrove saja. misalnya, hanya spesies Rhizophora sp yang dianggap spesies yang paling berharga. Pemahaman tersebut keliru, karena penanaman monospesies berdampak pada terbatasnya keragaman hayati ekosistem. Semakin beragam spesies mangrove, semakin kompleks pula rantai makanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto bersama dengan Bapak Dirjen P2HP KKP RI

 

 

Hari ketiga, 12 Desember 2012

 

Kegiatan Penanaman mangrove

Nah ini dia, hari ketiga PESISIR lanjut kegiatan menanam mangrove. Sepertinya kita akan mempraktekkan hasil seminar nasional yang dibahas oleh Ibu Rahmawati. Ditanggal cantik 121212, kami mahasiswa perikanan se-Indonesia merestorasi mangrove di kawasan Barru Kabupaten Maros. Ternyata memang diawali dengan pengenalan jenis mangrove yang biasa tumbuh di kawasan tersebut yaitu Rhizophora sp dan Sonneratia sp. Bibit mangrove yang akan ditanam berumur 3 bulan dengan jarak penanaman 1 m x 1 m. Yang paling mengesankan dalam penanaman mangrove yaitu kedalaman lumpur selutut  yang menyusahkan pergerakan kita hanya untuk melangkah dan ternyata juga banyak tiram yang melukai kaki. Dan diakhir prosesi penananan mangrove, ditutup dengan perang lumpur sehingga pakaian dan tubuh penuh dengan lumpur. Harapan kami, semoga setelah kegiatan ini kawan-kawan di wilayah 6 terutama Politani Pangkep tetap memantau perkembangna hasil penanaman mangrove agar tidak sia-sia.

 

Hari keempat, 13 Desember 2012

Tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia  hanya berkisar 30 kg/kapita/tahun. Hal inilah yang mendasari kegiatan GEMARIKAN bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan. Kegiatan ini dilakukan disepanjang jalan depan Kampus Politani Pangkep. Ikan Bandeng sebagai maskot perikanan daerah Pangkep ternyata disokong penuh oleh DKP Pangkep. Peserta LKP bersama panitia bahu membahu membakar ikan dan diberikan secara gratis kepada masyarakat yang melintasi jalan poros. Pada mulanya, masyarakat enggan menerima ikan gratis tersebut. Bahkan yang miris, ada sebuah mobil berplat merah melemparkan selembar uang yang mengira kita membutuhkan uang dari kegiatan tersebut. Tak berapa lama, sekjen himapikani juga melakukan orasi yang menghimbau kepada masyarakat untuk menerima ikan gratis dan memaparkan organisasi himapikani serta pentingnya mengkonsumsi ikan. Diantara rasa amis ikan, panasnya tungku pembakaran serta terik sinar matahari tidak mengurangi semangat kami. Terasa begitu dekat kebersamaan diantara kami. Semoga kegiatan GEMARIKAN bisa dilaksanakan secara berkala di setiap daerah yang diprakarsai dan digerakkan oleh LKP (lembaga kemahasiswa perikanan) di tiap wilayah HIMAPIKANI.

 

HIMAPIKANI – Clean the beach

Perjalanan menuju Pulau Putiangin

Hari kelima, 14 Desember 2012

Perjalanan kegiatan PESISIR di hari kelima menuju ke Pulau Putiangin Kab. Maros. Tujuan pelaksanaan kegiatan Bakti Sosial dan Transplantasi Terumbu Karang. HIMAPIKANI memberikan sedikit sumbangsih berupa buku tulis dan peralatan tulis bagi anak-anak sekolah di pulau tersebut dan mengecat sekolah. Ternyata hal ini disambut gembira oleh anak-anak. Hingga mereka ikut melihat kegiatan kita berupa transplantasi terumbu karang. Kegiatan lain yang kita lakukan yaitu bersama-sama membersihkan sampah yang berserakan di sepanjang pantai Pulau Putiangin. Hanya saja lebih kegiatan yang tepatnya lagi, jika kita melakukan penyuluhan kepada masyarakat pulau untuk mengajarkan sikap membuang sampah pada tempatnya serta memanfaatkan kembali sampah menjadi barang yang lebih berguna dan penyediaan tempat sampah yang layak sehingga kesan kumuh menjadi berkurang. Sebenarnya pulau putiangin jika dimanfaatkan optimal oleh masyarakat dan pemerintah daerah dapat dijadikan lokasi budidaya ikan kerapu selain kegiatan penangkapan sebagai mata pencaharian utama. Saat itu, saya tertarik pada sebuah KJA diantara puluhan perahu di perairan pulau Putiangin.

 

Ternyata KJA tersebut sebuah inisiatif salah satu nelayan untuk membesarkan (membudidayakan) ikan kerapu hasil tangkapannya. Sehingga saya menyempatkan  berbincang dengan salah satu nelayan , yang menyatakan pemerintah daerah memang memberikan bantuan berupa perahu untuk menangkap ikan tetapi tidak untuk kegiatan budidaya.  Menurut nelayan tersebut, masyarakat pasti akan sangat senang dan terbantu secara ekonomi bila pemda setempat memberikan bantuan berupa KJA dan pelatihannya. Waw, seharusnya beginilah mahasiswa perikanan, terjun langsung ke lapangan dan mencari tahu hal apa yang paling dibutuhkan pejuang perikanan seperti mereka. Selain itu, wilayah kepulauan dapat pula dijadikan tujuan wisata bahari seperti lokasi menyelam. Transplantasi terumbu karang dilakukan oleh teman-teman yang lebih berpengalaman dalam menyelam. Sayangnya, kita tidak membawa underwater camera untuk mengabadikan momen indah di bawah laut.  Sedangkan kami yang tidak ikut melakukan transplantasi, mengikuti pelatihan menyelam secara singkat dan sederhana. Bagi saya yang sudah jauh-jauh dari Jawa ,

Pelatihan Diving

tentu saja tidak melewatkan pelatihan ini. Ternyata sangat menyenangkan bisa menyelam di lautan. Tidak perlu pandai berenang, hanya perlu keberanian dan tentunya never diving alone. Diharapkan juga kawan-kawan HIMAPIKANI wilayah 6 tetap memantau perkembangan keberhasilan transplantasi terumbu karang dan dapat dilakukan di tempat-tempat lain. Diluar perkiraan hari itu, terpaksa kami harus menginap di pulau karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk menyeberang. Tentu saja hal ini diluar perkiraan tetapi sangat menyenangkan untuk menjalin kebersamaan diantara kawan-kawan LKP se Indonesia.

Hari Keenam, 16 Desember 2012

Hari pamungkas kegiatan PESISIR dengan mengunjungi Bantimurung. Bantimurung merupakan wisata air terjun dan kawasan konservasi bagi kupu-kupu. Selain menikmati keindahan pesona alamnya, tak lupa kami dengan senangnya menikmati dinginnya air dan sejuknya udara. Kebersamaan diantara kami semakin lekat dengan permainan meluncur menggunakan ban. Hikmah yang dapat saya petik, dalam sebuah organisasi yang diperlukan adalah rasa kebersamaan yang harus terjalin dan rasa memiliki sehingga dengan sendirinya organisasi tersebut akan digerakkan oleh nurani pejuang untuk meraih tujuan organisasi.

 

 

 

 

 

Lipsus (Liputan Khusus)

Aktivitas persiapan budidaya rumput laut

RUMPUT LAUT oh RUMPUT LAUT

 

Rumput Laut Basah jenis E.cottoni

Di belakang kampus Politani Pangkep ternyata dulunya merupakan sentra budidaya rumput laut. Namun sejak 2010, kawasan yang dulunya begitu hidup dengan kegiatan para pembudidaya malah berangsur menghilang. Saya bersama Ike (UNAIR), Ade (UNSRI) dan Lia (Univ. PGRI Palembang) menyempatkan diri untuk berbincang dengan bapak dan ibu (lupa nama beliau) pembudidaya rumput laut yang tersisa. Dengan keadaaan sekarang, harga rumput laut basah hanya senilai selembar uang Rp 2.000/kg sedangkan rumput laut kering ‘naik sedikit’ Rp 8.000/kg. Memang untuk investasi budidaya rumput laut tidaklah terlalu mahal, tetapi dulunya harga rumput laut bisa mencapai Rp. 18.000/kg. Bayangkan selisihnya, akhirnya banyak pembudidaya rumput laut sekarang lebih memilih menjadi TKI di luar negeri. Oh malangnya, ternyata penduduk Indonesia tak bisa Berjaya di negeri sendiri. Andai oh andai saja, pemerintah peka akan nasib rakyatnya. Tidak hanya diberi penyuluhan budidaya, tetapi pengolahan rumput laut mulai dari penanganan pasca panen (penjemuran) hingga menjadi produk akhir seperi olahan rumput laut dan karaginan. Rumput laut tentu saja tidak hanya berpatok pada selembar uang Rp 10.000, tetapi bisa mencapai selembar uang berwarna merah (Rp 100.000). Eh, ternyata jangan hanya mengandalkan pemerintah. Kita lah, sebagai mahasiswa perikanan yang semestinya tergerak hati untuk ikut membangun perikanan Indonesia. Mulai dari saya, dari yang terkecil,dan mulai dari sekarang. Jayalah Bahariku, Indonesia.

 

Penjemuran Rumput laut hingga kering

Budidaya Rumput Laut di perairan pangkep

*Penulis merupakan Ketua LKP (Lembaga Kemahasiswaan Perikanan) UMM 2012-2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s