Peran Mahasiswa perikanan terhadap masyarakat nelayan (memperingati hari nelayan 6 april 2013)

Sebagai mahasiswa perikanan jika ditanya apakah kita mengerti tanggal penting seperti peringatan hari nelayan setiap tanggal 6 april ? Mungkin hanya segelintir mahasiswa yang tahu. Bukanlah sebuah perayaan akbar yang diharapkan nelayan dalam momentum peringatan hari nelayan. Tetapi sebagai titik dimana semua kalangan menyadari keberadaan nelayan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang membutuhkan perhatian dalam peningkatan kesejahteraan mereka. Sudah selayaknya nelayan Indonesia sejahtera.

Dunia mahasiswa saat ini hanyalah berkutat dengan kegiatan kuliah – praktikum – nongkrong dan lain sebagainya. Kegiatan keorganisasian bukanlah menjadi prioritas utama. Alasan sibuk, tidak ada waktu menjadi hal lumrah. Mahasiswa sekarang ini seakan tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat. Padahal mahasiswa dikenal sebagai kaum intelektual yang diharapkan masyarakat sebagai pencerah dari segala permasalahan yang ada. Bukan tidak mungkin, mahasiswa perikanan malah tidak mengerti apa sesungguhnya perikanan itu. Miris sekali.

Mahasiswa perikanan belum tentu pernah berinteraksi dengan masyarakat pesisir dan nelayan. Nelayan, punggawa terdepan protein bangsa seakan semakin terlupakan oleh kemajuan zaman. Tengok saja kehidupan mereka yang jauh dari kata sejahtera. Menurut data BPS masyarakat pesisir dan nelayan termasuk dalam kalangan termiskin di tanah air. Nelayan indonesia terhimpit permasalahan sosial,ekonomi dan teknologi. Disinilah peran mahasiswa dibutuhkan sebagai “agent of change”. Mahasiswa perikanan sebagai sumberdaya manusia terdidik alangkah lebih mulia memberikan pengetahuan di bangku kuliah dalam bentuk pelatihan, pendampingan maupun penyuluhan. Selama ini, tidak dapat dipungkiri rendahnya kualitas SDM berpengaruh terhadap kesejahteraan. Nelayan memang tidak mungkin dipaksa untuk mengenyam pendidikan formal seperti mahasiswa. Keterampilan praktis seperti penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, penanganan hasil tangkapan, pengolahan hasil perikanan, maupun kegiatan budidaya bisa kita lakukan dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa. Selain itu, anak-anak nelayan menjadi investasi masa depan bangsa sudah patut untuk diperhatikan. Melalui kepedulian kita untuk memberikan edukasi, permainan, maupun bantuan alat tulis sekolah perlahan akan meningkatkan semangat belajar mereka.

Saat ini tidak hanya peran pemerintah yang dibutuhkan dalam memajukan sektor perikanan, kita sebagai generasi penerus mempunyai kewajiban untuk ikut berperan aktif. Pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri. Bukan lagi saatnya kita untuk berdemo yang tidak jelas arah, saatnya kita terjun ke masyarakat. Terkadang demo mengkritisi kebijakan pemerintah,menyuarakan kepentingan rakyat penting untum dilakukan. Tetapi karya nyata kita di masyarakat yang lebih dinanti. Sekarang tinggal bagaimana pilihan kita. Tetap diam atau bertindak !

TRIDAKNAS HIMAPIKANI 2013

TRIDAKNAS HIMAPIKANI 2013

 (TRAINING DASAR ADVOKASI DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL)

 Oleh : Restu Putri Astuti

Ketua LKP Universitas Muhammadiyah Malang

 

            TRIDAKNAS HIMAPIKANI merupakan rangkaian kegiatan HIMAPIKANI bekerjasama dengan LKP Universitas Djuanda Bogor yang dilaksanakan pada tanggal 11-14 Maret 2013. Tridaknas yang mengusung tema “Menciptakan SDM yang Berjiwa Wirausaha Berbasis Perikanan Sebagai Kontribusi Pembangunan Ekonomi Nasional”. Diharapkan Mahasiswa dapat meningkatkan kualitas diri, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengkritisi kebijakan, dan menciptakan inovasi baru serta mengaplikasikannya dalam langkah nyata. Sebagai langkah nyata mahasiswa dapat memajukan perikanan nasional dengan merintis usaha perikanan inovatif yang berkelanjutan dan mengembangkan jaringan kerja antar profesional muda. sektor swasta merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, kewirausahaan atau kewiraswastaan mempunyai peran penting dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional di bidang perekonomian khususnya dalam sektor kelautan dan perikanan. Kegiatan Tridaknas HIMAPIKANI mendapat sambutan yang luar biasa Kelautan dan Perikanan beserta beberapa dinas terkait untuk ikut mensukseskan kegiatan ini. Tak terlepas dari itu, partisipasi dari kawan-kawan LKP se-Indonesia untuk ikut berperan aktif. Universitas Muhammadiyah Malang mengirimkan 6 orang delegasi yaitu Restu Putri Astuti, Tiyok Susanto, Hamdi Rosyidi, Ghufron Affandy dan Moh. Qosyim Ayyubi.

Rangkaian kegiatan TRIDAKNAS HIMAPIKANI 2013 meliputi

Hari pertama, Senin 11 Maret 2013

Seminar Nasional Perikanan

Seminar nasional perikanan berupa diskusi panel antara Kepala BPSDM KP Bapak Dr. Suseno Sukoyo dan Dirjen Perikanan Budidaya Bapak Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si. Kegiatan seminar diadakan di Aula Gedung C Universitas Djuanda Bogor yang diikuti hampir 200 orang yang memenuhi ruangan. Jumlah delegasi 24 LKP (Lembaga Kemahasiswaan Perikanan( dengan 70 orang mahasiswa utusannya. Materi pertama dipaparkan oleh Kepala BPSDM KP Bapak Dr. Suseno Sukoyo yang mengusung tema “Peningkatan SDM sektor Perikanan Mendukung Perekonomian Nasional”. Inti dari penyampaian beliau adalah jika ditanya What is a fishery? The resource, the habitat and the people involved. Karena sebagai mahasiswa perikanan haruslah mengerti dan memahami apa itu perikanan. Lebih lanjut yang ditekankan oleh Kepala BPSDM, SDM sebagai ujung tombak kemajuan perikanan. Tidak mungkin suatu bangsa bisa berdaya saing jika SDM (sumberdaya manusia) tidak berkualitas. Menurut data survey yang dilakukan UNDP (2011), Indonesia bertengger pada posisi 124 dari 187 negara dalam rangking Indeks Pembangunan Manusia (IPM=Human Development Index). BPSDM sebagai lembaga pengembangan sumberdaya manusia kelautan dan perikanan melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan diharapkan perlahan tapi pasti akan menciptakan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. Progam unggulan yang dimiliki BPSDM seperti pembentukan P2MKP, diklat pelatihan, dan pembentukan kelompok suluh dan masih banyak lagi.  Beliau juga menandaskan Menteri KP menetapkan  Minapolitan, Industrialisasi, dan ekonomi biru (blue economy) sebagai pilar dasar paradigma pembangunan KP 2013-2014 memperhatikan faktor kawasan, modernisasi, dan lingkungan  dengan pendekatan KKP incorporated yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan perikanan dan kelautan di Indonesia.

Diskusi kedua dipaparkan oleh Dirjen Perikanan Budidaya Bapak Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si dengan tema Kebijakan Pembangunan Perikanan Budidaya & Peluang Usaha Perikanan” . Disingkatnya waktu yang tersedia beliau memamaparkan Aquaculture sebagai masa depan perikanan Indonesia karena tingkat pemanfaataan yg masih rendah jika dibandingkan dg produksi penangkapan yang stagnan. Perikanan budidaya dipusatkan didaerah minapolitan berbasis industrialisasi dengan pengembangan ekonomi biru. Ekonomi biru merupakan keuntungan atau pertumbuhan perekonomian yang dihasilkan dari perikanan dan kelautan tanpa merusak lingkungan. Beberapa kegiatan ditjen perikanan budidaya antara lain model pembudidayaan ikan melalui demfarm , GENTANADI, CBIB , bisnis akuakultur berbasis Blue Economy (ekonomi biru)-BISA BERSEMI, gerakan penggunaan induk unggul (GAUL), penguatan permodalan dg KUR dan kerjasama dg Perbankan. Pesan Bapak Dirjen Budidaya HIMAPIKANI harus bersinergi dengan KKP untuk kemajuan perikanan dan kelautan dan  mahasiswa mampu melihat peluang usaha perikanan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bukan sebagai “job seeker”. Dalam diskusi panel ini timbul pertanyaan dari kalangan mahasiswa, bagaimana langkah konkrit dari kementrian untuk mengurangi kesenjangan pembangunan di luar Jawa seperti daerah 3T (terluar, tertinggal dan terlantar) serta bagaimana mengatasi destruktif fishing. Untuk mengatasi kesenjangan perekonomian, kementrian bekerjasama dengan PEMDA dan pihak terkait untuk melakukan pembangunan terutama dalam pembangunan infrastruktur dan konektivitas antardaerah. Sedangkan untuk mengatasi destruktif fishing dilakukan IPTEK penangkapan melalui penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan regional.

Ceramah Umum oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Sharif C. Sutardjo yang kali ini berkesempatan hadir dalam kegiatan TRIDAKNAS. Dalam waktu yang relative singkat berkisar 30 menit, tema “Menciptakan Wirausaha Baru  Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Kelautan Dan Perikanan Di Kawasan Minapolitan dengan Industrialisasi Melalui Pendekatan Blue Economy”. Poin-poin penyampaian Bapak Sharif yang menyatakan Indonesia akan menjadi pelaku ekonomi dunia ke 7 pada tahun 2030 dengan salahsatu penopang adalah sektor perikanan (McKinsey Global Institute, 2012). Tentu saja itu menjadi angin segar bagi kita, hanya saja dibutuhkan manajemen yang tepat untuk mencapainya. Tentu saja kita sudah hapal dengan segala potensi perikanan yang dimiliki Indonesia. Mulai dari luas perairan laut 5,8 juta km2, garis pantai terpanjang kedua di dunia 81.290 km beserta 17.504 pulaunya, potensi lestari perikanan tangkap sebesar 6,4 juta ton/tahun, serta perikanan  budidaya yang produksinya sebesar 3,2 juta ton atau baru 12,5% dari total potensinya (DKP, 2008). Dosa besar KKP tidak mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki. Bandingkan saja denga  Cina dengan total produksi 41 juta ton/tahun, Indonesia hanya 8,7 juta ton/tahun. Melalui progam Percepatan industrialisasi  perikanan melalui konsep blue economy akan menghasilkan  US$ 1,2 triliun dengan pengelolaan yang baik. Yang patut kita cermati, apapun nama progam dan bagaimana bentuknya yang digulirkan kementrian sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia (dan kalau bisa secepat-cepatnya dapat dirasakan).

Regulasi berupa Kepres “seluruh zonasi harus dilakukan seijin KKP meliputi 300 kota/kabupaten” agar tidak terjadi tumpang tindih antar sektor di kawasan pesisir. Memang sudah saatnya untuk dirumuskan, lihat saja keadaan pesisir Indonesia yang terkesan kumuh tidak tertata kawasan untuk pemukiman, pelabuhan, industry, rekreasi dan lain-lain yang terlihat carut marut. Blue economy  harus didukung oleh SDM yang berkualitas karena SDM sebagai “otak dan ruh”.  Mahasiswa menjadi pemberi lapangan pekerjaan (enterpreneur) bukan pencari pekerjaan karena KKP siap melakukan progam penyuluhan dan pendanaan dan saat ini perbankan mulai mengucurkan dana untuk perikanan. Mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa  wajib ikut berperan dalam pembangunan terutama kemajuan kelautan dan perikanan. Bapak Sharif C.Sutardjo menantang mahasiswa untuk menjadi enterpreneur di dunia perikanan.

Foto Bersama Bapak Menteri dengan Delegasi LKP se-Indonesia

 

 

Suasana Pelatihan Budidaya Ikan Gurami oleh DejeeFish dan

Pelatihan Pembuatan Pakan oleh KABITA Bogor

Salah satu rangkaian pada kegiatan TRIDAKNAS adalah pelatihan pembenihan ikan air tawar dan pembuatan pakan ikan bagi mahasiswa. Kegiatan pelatihan perikanan nasional selain untuk mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan yang dicanangkan KKP, juga untuk mengurangi angka pengangguran. Selain itu diharapkan melalui kegiatan pelatihan ini dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadi pewirausaha di bidang perikanan. Pelatihan dilakukan oleh pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Dejefish Sukabumi dan P2MKP Koperasi Budidaya Air Tawar (KABITA) Bogor. P2MKP Dejeefish berawal dari kegiatan produksi benih ikan gurame sederhana pada 2006 yang kini telah menjadi perusahaan perikanan air tawar yang terintegrasi. Mulai dari pembenihan, pendederan, pembesaran, jasa pengiriman ikan domestik dan internasional sampai jasa pelatihan budidaya perikanan
air tawar.  P2MKP KABITA Bogor merupakan unit usaha yang bergerak pada usaha pembenihan dan budidaya ikan tawar, terutama komoditas ikan lele. Saat ini P2MKP merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam membantu meningkatkan sasaran masyarakat yang dibantu peningkatan kapasitasnya dalam meningkatkan usaha dan pendapatannya. Kegiatan pelatihan perikanan ini seyogya dapat lebih ditingkatkan melalui kerjasama dengan dinas maupun balai perikanan yang bekerjasama dengan universitas di tiap wilayah agar semakin meningkat keterampilan kami generasi penerus bangsa. Hidup Mahasiswa!

To be continued …

HIMAPIKANI

himapikani pusat copy

HIMAPIKANI merupakan suatu organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang keprofesian yang bertujuan menggalang persatuan dan kerjasama untuk meningkatkan profesionalisme dalam rangka pembangunan masyarakat perikanan yang berkeadilan dan berkemakmuran guna menunjang pembangunan nasional yang berbasis kerakyatan. HIMAPIKANI menyatukan Lembaga-Lembaga Kemahasiswaan Perikanan (LKP) diploma dan atau strata satu  di Indonesia dalam suatu wadah organisasi. HIMAPIKANI berdiri 1 maret 1991 di Makassar.

 

Latar Belakang Oganisasi

Sekitar tahun 1977 tercetus ide dari beberapa universitas di Indonesia untuk membentuk organisasi perikanan Indonesia, ide tersebut muncul pada saat mahasiswa perikanan dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia hadir di fakulitas perikanan IPB untuk melaksanakan tugas belajar. Ada tujuh kampus yang hadir dan bertemu dalam satu tujuan, daiantaranya Institut POertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya (UNIBRAW), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Padjajaran (UNPAD), Universitas Hasanudin (UNHAS), Universitas Pattimura (UNPATTI).

Dengan hadirnya delegasi mahasiswa perikanan dari hampir seluruh provinsi Indonesia tersebut sehingga dapat melahirkan ide yang untuk dilaksanakan Konggres Nasional Mahasiswa perikanan Seluruh Indonesia. Hasil dari Konggres tersebut melahirkan sebuah nama organisasi yang disebut dengan Himpunan Mahasiswa Perikanan Seluruh Indoneseia (HIMAPSI). Setelah konggres selesai organisasi tersebut tidak mempunyai kegiatan, hal tersebut disebabkan adanya perubahan politik di Indonesia, Himpunan tersebut akhirnya bubar begitu saja.

Upaya Menghidupkan Kembali

            Beberapa perguruan tinggi yang mengadakan studi banding ke Bogor, diantaranya UNIBRAW dan UNHAS telah berdialog mengenai kemungkinan dibentuknya wadah baru dan mendapat respon positif dari beberapa kalangan. Namun kembali mentah karena kurangnya koordinasi di tiap perguruan tinggi senat mahasiswa (SM). Faperikan IPB juga telah mengirimkan konsep pembentukan himpunan mahasiswa perikanan Indonesia ke beberapa perguruan tinggi namun kurang mendapat tanggapan. Ketika diadakan pekan ilmiah mahasiswa (PIM) 1990 IPB, momen tersebut secara spontan digunakan untuk pembentukan satu himpunana.

            Pada seminar nasional prospek bisnis dan peluang infestasi perikanan oleh SM perikanan IPB di Auditorium departemen Pertanian Jakarta yang berlangsung pada tanggal 24 Desember 1990 dimanfatkan untuk saling mendekatkan pandangan sesama mahasiswa perikanan untuk mempertajam arah pembicaraan beberapa perguruan tinggi sepakat  untuk mengadaka pertemuan informal di Bogor pada tanggal 25 September  1990. Hadir dalam pertemuan tersebut  wakil dari UNHAS, UNRI, UNSRAT, UNIBRAW, UNDIP, UNPAD, dan IPB sebagai tuan rumah. Berangkat dari pemikiran bahwa informasi dan komunikasi adalah faktor yang sangat penting  sementara kesenjangan informasi dan komunikasi antar organisasi perikanan selama ini merupakan salahsatu kendala. Melalui salah satu kegiatan nasional maka perlu dibentuk wadah komunikasi untuk memperlancar komunikasi lintas almamater dan lintas wilayah. Dengan adanya kesamaan-kesamaan pandangan ini dibentuk wadah aktifitas berskala nasional bagi mahasiswa perikanan. Sebagai tindak lanjut dibentuk stering committee (SC) untuk konggres nasional mahasiswa perikanan Indonesia (KNMPI) yang beranggotakan masing – masing 2 orang wakil dari perguruan tinggi  yang hadir pada pertemuzan informal di Bogor. Tempat pertemuan KNMPI ditunjuk Universitas Hassanudin Makasar.

Kongres Nasional Mahasiswa Perikanan Indonesia

KNMPI dan seminar nasional yang diselenggarakan di Ujung Pandang pad tanggal 25 februari – 4 maret 1991 ini diakui oleh 21 perguruan tinggi negeri dan suwasta. Dari hasil sidang  marathon pra kongres 23-24 februari 1991. Sidang komisi I dan II yang membidangi anggaran dasar / anggaran rumah tangga dan garis – garis besar  haluan kerja (GBHK) pada tanggal 25-26 februari 1991 ditetapkan 5 poin keputusan oleh presidium kongres yaitu :

1.      Disahkannya anggaran dar dan anggaran rumah tangga

2.      Mengesahkan garis – garis besar haluan kerja (GBHK)

3.      Penunjukan UNRI sebagai penyelenggara konggres Nasional II HIMAPIKANI 1993

4.      Mengangkat dan mengesahkan personalia dewan perwakilan dan pembagian dewan koordinasi wilayah (KORWIL)

5.      Mengangkat Muhamad Syahrum Alfan dari IPB sebagai sekertais jenderal HIMAPIKANI periode 1991 – 1993.

Adapun yang menjadi presidium kongres terdiri dari Yarifai Mappaeti (UNHAS), Muhamad Rahmad Mulyanda (IPB) dan Wisma Halmizardi (UBH). Adanya wadah organisasi mahasiswa perikanan maka koordinasi aktifitas organisasi di tingkat nasional mudah dilakukan sehingga aktifitas akan dapat diwujudkan untuk mencapai tujuan organisasi dan akan nampak hasil yang nyata dari aktifitas tersebut.

Sekretaris Jenderal

1.      Periode 1991 – 1993 : Muhammad Syahrum Alfan (LKP IPB)

2.      Periode 1993 – 1995 : Muhammad Soleh (LKP UNIBRAW Malang)

3.      Periode 1995 – 1997 : Ahmad Jauzi (LKP IPB)

4.      Periode 1997 – 1999 : Dhodik C. Dwi Saputro (LKP UGM)

5.      Periode 1999 – 2001 : Kusdiantoro (LKP IPB)

6.      Periode 2001 – 2003 : Irfan Karim (LKP UMI Makassar )

7.      Periode 2003 – 2005 : Herman Jaya (LKP UMM)

8.      Periode 2005 – 2007 : Ariswidodo (LKP DJUANDA Bogor )

9.      Periode 2007 – 2009 : Andri Tendri Pada (LKP UNHAS Makassar)

10.  Periode 2009 – 2011 : Abdul Azis  (LKP UMI Makassar)

11.  Periode 2012 – 2014 : Indar Wijaya (LKP UNHAS Makassar)

 

Kongres HIMAPIKANI

1.      Kongres I                    Tahun 1991 bertempat di LKP UNHAS Makassar

2.      Kongres II                   Tahun 1993 bertempat di LKP UNRI RIAU

3.      Kongres III                 Tahun 1995 bertempat di LKP UMUL Samarinda

4.      Kongres IV                 Tahun 1997 bertempat di LKP UHT Surabaya

5.      Kongres V                   Tahun 1999 bertempat di LKP IPB Bogor

6.      Kongres VI                 Tahun 2001 bertempat di LKP UMI Makassar

7.      Kongres VII                Tahun 2003 bertempat di LKP UBH Padang

8.      Kongres VIII              Tahun 2005 bertempat di LKP UNISAPalu

9.      Kongres IX                 Tahun 2007 bertempat di LKP UBT Kalimantan

10.  Kongres X                   Tahun 2009 bertempat di LKP IPB

11.  Kongres XI                 Tahun 2011 bertempat di LKP UNHAS Makasar

 

VISI
Mewujudkan sumberdaya manusia perikanan yang berkualitas, professional, dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan yang berkelanjutan untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat Indonesia.

MISI
1. Meningkatkan mutu sumberdaya manusia perikanan dalam rangka pengembangan sumberdaya perikanan secara professional dan konprehensif demi keberlanjutan fungsi dan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat.
2. Mewujudkan organisasi yang independen serta menjadi sosial control terhadap pemerintah dalam rangka menciptakan good and clean government.
3. Meningkatkan dan mengefektifkan peran dan kegiatan organisasi baik ditingkat daerah maupun nasional yang berbasis sosial kemasyarakatan sehingga menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Membentuk jaringan komunikasi yang luas dengan instansi tekait guna pengembangan profesionalisme dn menumbuhkan jiwa enterpreurship.
5. Mempertahankan eksitensi departemen kelautan dan perikanan (DKP)sebagai institusi yang mampu membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

 

Cerita PESISIR HIMAPIKANI

PESISIR HIMAPIKANI 2012

Oleh : Restu Putri Astuti *

            Perjalanan HIMAPIKANI (Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia) menuju 22 tahun usianya sebagai suatu organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang keprofesian yang berkomitmen dan kepedulian pada daerah dan pusat serta membantu progam – progam pemerintah daerah maupun pusat di bidang pelaksanaan dan pengawasan pembangunan , secara umum dan pembangunan Perikanan dan Kelautan pada khususnya. Kegiatan Pekan Aksi dan Seminar Nasional (PESISIR) 2012 yang diadakan oleh Lembaga Kemahasiswaan Perikanan (LKP) Politani Pangkep sebagai anggota HIMAPIKANI menyelenggarakan kegiatan tersebut untuk membantu mempercepat kebijakan “ekonomi biru” yang diusung oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui rangkaian kegiatan di dalamnya. Sebagai mahasiswa yang dikenal sebagai “agent of change” seyogya mengawal kebijakan pemerintah serta membangun sumberdaya manusia yang kontributif dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Dari Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Perikanan mengirimkan 2 delegasi untuk mengikuti kegiatan ini yaitu Restu Putri Astuti (Angkatan 2010) dan Tiyok Susanto (Angkatan 2011).

Rangkaian kegiatan PESISIR HIMAPIKANI 2012 meliputi

Hari pertama, Senin 10 Desember 2012

Penyambutan kawan-kawan LKP se-Indonesia yang disambut dengan “welcome party” yang dibuka oleh wakil direktur Politani Pangkep dan sambutan Sekjen Himapikani Periode 2012-2014 Indar Wijaya beserta penampilan hiburan band kampus. Selanjutnya untuk mempererat rasa kebersamaan antar LKP acara pengenalan LKP se-Indonesia hingga acara diakhiri dengan menyanyi bersama (tentunya bagi yang berminat menyumbangkan suara).

 

 

 

 

 

 

 

Hari kedua, Selasa 11 Desember 2012

Acara seminar nasional perikanan yang mengangkat tema “Transformasi Mindset Masyarakat ke Arah Blue Ekonomi” sebagai topik utama. Ketidakhadiran Bapak Syarif C. Sutardjo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan bukan menjadi penghalang peserta untuk mengikuti seminar ini. Bahkan aula di Politani Pangkep terlihat hampir terisi penuh peserta baik dari kalangan mahasiswa, akademisi, hingga pihak pemerintah daerah ikut pula menyemarakkan agenda ini. Acara ini dibuka dengan tarian khas Makassar  dan Paduan Suara Politani Pangkep , secara resmi dibuka oleh Direktur Politani Pangkep. Selanjutnya sambutan Sekjen Himapikani, Indar Wijaya terlihat cukup diapresiasi oleh peserta seminar karena pernyataannya yang kritis terhadap pemerintah terutama kementrian kelautan dan perikanan dan inilah sepotong kata-kata yang masih saya ingat “kami mahasiswa tidak butuh uang, tetapi kehadiran bapak walaupun 15-30 menit untuk memperhatikan kami”.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Dr. Mawan Hermawan M.Sc (Direktur P2HP/KKP) menilik tema yang diangkat termasuk up to date karena saat ini di lingkup kementrian masih sebatas penggondokan untuk kemudian direalisasikan dalam blue print berupa kebijakan di tahun 2013. Inti dari materi bapak Mawan Hermawan bagaimana penerapan konsep blue economy yang mampu memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal dan berkelanjutan dengan dukungan pengetahuan dan teknologi. Ekonomi biru diharapkan menerapkan inovasi dalam sistem produksi tanpa limbah (zero waste). Salah satu komoditas perikanan unggulan dalam penerapan ekonomi biru adalah rumput laut. Rumput laut relative mudah dibudidayakan hanya dalam waktu 30-45 hari sudah dapat dipanen, biaya investasi kecil, tetapi padat karya (menyerap banyak tenaga kerja). Rumput laut menghasilkan agar-agar, karaginan, dan alginate. Dari ketiga produk tersebut dapat dihasilkan paling tidak 16 produk baru. Tentu saja sebaik apapun konsep dari Pemerintah yang diharapkan adalah mampu berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat perikanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto Pemateri Seminar Nasional Perikanan (kiri ke kanan) : Moderator  – Ibu Rahmawati Fadhillah, S.Pi, M.Si (Direktur Mangrove Action Project) – dr. Dr. Mawan Hermawan M.Sc (Dirjen P2HP/KKP) – Ir. Nasrul Effendi M.Si (Kasie Penerapan Budidaya dan Energi/KKP)

Materi ketiga “upaya restorasi mangrove” dikupas oleh Ibu Rahmawati Fadhillah sebagai direktur mangrove action project. Diawal pembicaraan Ibu Rahmawati menyatakan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem mangrove ternyata tidak diikuti dengan dengan kajian faktor pendukung utama keberhasilan restorasi mangrove, yaitu kajian ekologi mangrove, hidrologi dan gangguan, sehingga upaya tersebut banyak mengalami kegagalan. Tentu saja hal ini baru saya sadari. Selama ini, kegiatan rehabilitasi mangrove yang saya ikuti ternyata hanya “asal-asalan”. Karena saya sendiri pun tidak merasa melakukan yang disebutkan diatas. Lebih lanjut ibu Rahmawati memaparkan  secara ringkas, lima tahap penting untuk kesuksesan restorasi mangrove adalah:

  1. Memahami autekologi (sifat ekologi) masing-masing spesies mangrove, khususnya, pola reproduksi, distribusi bibit dan keberhasilan pembentukan bibit.
  2. Memahami pola hidrologi normal yang mengatur distribusi dan keberhasilan pembentukan serta pertumbuhan sepesies mangrove yang ditargetkan.
  3. Memperkirakan perubahan lingkungan mangrove asli yang menghalangi pertumbuhan alami mangrove.
  4. Disain program restorasi untuk memperbaiki hidrologi yang layak dan jika memungkinkan menggunakan benih alami mangrove untuk melakukan penanaman.
  5. Hanya melakukan penanaman bibit, memungut atau mengolah biji setelah mengetahui angkah alami di atas (langkah a – d) tidak menghasilkan anakan, tingkat stabilitas, atau tingkat pertumbuhan sebagaimana yang diharapkan (Lewis dan Marshall 1997).

Upaya restorasi bertujuan untuk mengembalikan kawasan mangrove yang terdegradasi kembali seperti kondisi alami sebelumnya. Dibutuhkan referensi jenis mangrove yang pernah tumbuh di habitat tersebut untuk menentukan spesies apa yang akan ditanam. Tetapi selama ini hampir semua progam penanaman mangrove hanya merujuk pada satu atau dua jenis mangrove saja. misalnya, hanya spesies Rhizophora sp yang dianggap spesies yang paling berharga. Pemahaman tersebut keliru, karena penanaman monospesies berdampak pada terbatasnya keragaman hayati ekosistem. Semakin beragam spesies mangrove, semakin kompleks pula rantai makanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto bersama dengan Bapak Dirjen P2HP KKP RI

 

 

Hari ketiga, 12 Desember 2012

 

Kegiatan Penanaman mangrove

Nah ini dia, hari ketiga PESISIR lanjut kegiatan menanam mangrove. Sepertinya kita akan mempraktekkan hasil seminar nasional yang dibahas oleh Ibu Rahmawati. Ditanggal cantik 121212, kami mahasiswa perikanan se-Indonesia merestorasi mangrove di kawasan Barru Kabupaten Maros. Ternyata memang diawali dengan pengenalan jenis mangrove yang biasa tumbuh di kawasan tersebut yaitu Rhizophora sp dan Sonneratia sp. Bibit mangrove yang akan ditanam berumur 3 bulan dengan jarak penanaman 1 m x 1 m. Yang paling mengesankan dalam penanaman mangrove yaitu kedalaman lumpur selutut  yang menyusahkan pergerakan kita hanya untuk melangkah dan ternyata juga banyak tiram yang melukai kaki. Dan diakhir prosesi penananan mangrove, ditutup dengan perang lumpur sehingga pakaian dan tubuh penuh dengan lumpur. Harapan kami, semoga setelah kegiatan ini kawan-kawan di wilayah 6 terutama Politani Pangkep tetap memantau perkembangna hasil penanaman mangrove agar tidak sia-sia.

 

Hari keempat, 13 Desember 2012

Tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia  hanya berkisar 30 kg/kapita/tahun. Hal inilah yang mendasari kegiatan GEMARIKAN bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan. Kegiatan ini dilakukan disepanjang jalan depan Kampus Politani Pangkep. Ikan Bandeng sebagai maskot perikanan daerah Pangkep ternyata disokong penuh oleh DKP Pangkep. Peserta LKP bersama panitia bahu membahu membakar ikan dan diberikan secara gratis kepada masyarakat yang melintasi jalan poros. Pada mulanya, masyarakat enggan menerima ikan gratis tersebut. Bahkan yang miris, ada sebuah mobil berplat merah melemparkan selembar uang yang mengira kita membutuhkan uang dari kegiatan tersebut. Tak berapa lama, sekjen himapikani juga melakukan orasi yang menghimbau kepada masyarakat untuk menerima ikan gratis dan memaparkan organisasi himapikani serta pentingnya mengkonsumsi ikan. Diantara rasa amis ikan, panasnya tungku pembakaran serta terik sinar matahari tidak mengurangi semangat kami. Terasa begitu dekat kebersamaan diantara kami. Semoga kegiatan GEMARIKAN bisa dilaksanakan secara berkala di setiap daerah yang diprakarsai dan digerakkan oleh LKP (lembaga kemahasiswa perikanan) di tiap wilayah HIMAPIKANI.

 

HIMAPIKANI – Clean the beach

Perjalanan menuju Pulau Putiangin

Hari kelima, 14 Desember 2012

Perjalanan kegiatan PESISIR di hari kelima menuju ke Pulau Putiangin Kab. Maros. Tujuan pelaksanaan kegiatan Bakti Sosial dan Transplantasi Terumbu Karang. HIMAPIKANI memberikan sedikit sumbangsih berupa buku tulis dan peralatan tulis bagi anak-anak sekolah di pulau tersebut dan mengecat sekolah. Ternyata hal ini disambut gembira oleh anak-anak. Hingga mereka ikut melihat kegiatan kita berupa transplantasi terumbu karang. Kegiatan lain yang kita lakukan yaitu bersama-sama membersihkan sampah yang berserakan di sepanjang pantai Pulau Putiangin. Hanya saja lebih kegiatan yang tepatnya lagi, jika kita melakukan penyuluhan kepada masyarakat pulau untuk mengajarkan sikap membuang sampah pada tempatnya serta memanfaatkan kembali sampah menjadi barang yang lebih berguna dan penyediaan tempat sampah yang layak sehingga kesan kumuh menjadi berkurang. Sebenarnya pulau putiangin jika dimanfaatkan optimal oleh masyarakat dan pemerintah daerah dapat dijadikan lokasi budidaya ikan kerapu selain kegiatan penangkapan sebagai mata pencaharian utama. Saat itu, saya tertarik pada sebuah KJA diantara puluhan perahu di perairan pulau Putiangin.

 

Ternyata KJA tersebut sebuah inisiatif salah satu nelayan untuk membesarkan (membudidayakan) ikan kerapu hasil tangkapannya. Sehingga saya menyempatkan  berbincang dengan salah satu nelayan , yang menyatakan pemerintah daerah memang memberikan bantuan berupa perahu untuk menangkap ikan tetapi tidak untuk kegiatan budidaya.  Menurut nelayan tersebut, masyarakat pasti akan sangat senang dan terbantu secara ekonomi bila pemda setempat memberikan bantuan berupa KJA dan pelatihannya. Waw, seharusnya beginilah mahasiswa perikanan, terjun langsung ke lapangan dan mencari tahu hal apa yang paling dibutuhkan pejuang perikanan seperti mereka. Selain itu, wilayah kepulauan dapat pula dijadikan tujuan wisata bahari seperti lokasi menyelam. Transplantasi terumbu karang dilakukan oleh teman-teman yang lebih berpengalaman dalam menyelam. Sayangnya, kita tidak membawa underwater camera untuk mengabadikan momen indah di bawah laut.  Sedangkan kami yang tidak ikut melakukan transplantasi, mengikuti pelatihan menyelam secara singkat dan sederhana. Bagi saya yang sudah jauh-jauh dari Jawa ,

Pelatihan Diving

tentu saja tidak melewatkan pelatihan ini. Ternyata sangat menyenangkan bisa menyelam di lautan. Tidak perlu pandai berenang, hanya perlu keberanian dan tentunya never diving alone. Diharapkan juga kawan-kawan HIMAPIKANI wilayah 6 tetap memantau perkembangan keberhasilan transplantasi terumbu karang dan dapat dilakukan di tempat-tempat lain. Diluar perkiraan hari itu, terpaksa kami harus menginap di pulau karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk menyeberang. Tentu saja hal ini diluar perkiraan tetapi sangat menyenangkan untuk menjalin kebersamaan diantara kawan-kawan LKP se Indonesia.

Hari Keenam, 16 Desember 2012

Hari pamungkas kegiatan PESISIR dengan mengunjungi Bantimurung. Bantimurung merupakan wisata air terjun dan kawasan konservasi bagi kupu-kupu. Selain menikmati keindahan pesona alamnya, tak lupa kami dengan senangnya menikmati dinginnya air dan sejuknya udara. Kebersamaan diantara kami semakin lekat dengan permainan meluncur menggunakan ban. Hikmah yang dapat saya petik, dalam sebuah organisasi yang diperlukan adalah rasa kebersamaan yang harus terjalin dan rasa memiliki sehingga dengan sendirinya organisasi tersebut akan digerakkan oleh nurani pejuang untuk meraih tujuan organisasi.

 

 

 

 

 

Lipsus (Liputan Khusus)

Aktivitas persiapan budidaya rumput laut

RUMPUT LAUT oh RUMPUT LAUT

 

Rumput Laut Basah jenis E.cottoni

Di belakang kampus Politani Pangkep ternyata dulunya merupakan sentra budidaya rumput laut. Namun sejak 2010, kawasan yang dulunya begitu hidup dengan kegiatan para pembudidaya malah berangsur menghilang. Saya bersama Ike (UNAIR), Ade (UNSRI) dan Lia (Univ. PGRI Palembang) menyempatkan diri untuk berbincang dengan bapak dan ibu (lupa nama beliau) pembudidaya rumput laut yang tersisa. Dengan keadaaan sekarang, harga rumput laut basah hanya senilai selembar uang Rp 2.000/kg sedangkan rumput laut kering ‘naik sedikit’ Rp 8.000/kg. Memang untuk investasi budidaya rumput laut tidaklah terlalu mahal, tetapi dulunya harga rumput laut bisa mencapai Rp. 18.000/kg. Bayangkan selisihnya, akhirnya banyak pembudidaya rumput laut sekarang lebih memilih menjadi TKI di luar negeri. Oh malangnya, ternyata penduduk Indonesia tak bisa Berjaya di negeri sendiri. Andai oh andai saja, pemerintah peka akan nasib rakyatnya. Tidak hanya diberi penyuluhan budidaya, tetapi pengolahan rumput laut mulai dari penanganan pasca panen (penjemuran) hingga menjadi produk akhir seperi olahan rumput laut dan karaginan. Rumput laut tentu saja tidak hanya berpatok pada selembar uang Rp 10.000, tetapi bisa mencapai selembar uang berwarna merah (Rp 100.000). Eh, ternyata jangan hanya mengandalkan pemerintah. Kita lah, sebagai mahasiswa perikanan yang semestinya tergerak hati untuk ikut membangun perikanan Indonesia. Mulai dari saya, dari yang terkecil,dan mulai dari sekarang. Jayalah Bahariku, Indonesia.

 

Penjemuran Rumput laut hingga kering

Budidaya Rumput Laut di perairan pangkep

*Penulis merupakan Ketua LKP (Lembaga Kemahasiswaan Perikanan) UMM 2012-2013.

Polikultur Rumput Laut, Bandeng dan Udang Windu

Gambar

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan komoditas unggulan perikanan budidaya, yaitu udang, rumput laut, bandeng dan patin. Sebagai salah satu komoditas unggulan, rumput laut terus dipacu produksinya di wilayah pantai utara (Pantura) Jawa Barat dengan pola budidaya polikultur. “Pada tahun 2012, KKP telah menargetkan peningkatan produksi rumput laut sebesar 5,1 juta ton atau meningkat sebesar 18,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo di Jakarta, Sabtu (11/8).

Dalam pengertiannya, polikultur adalah praktek kultur lebih dari satu jenis organisme akuatik di kolam yang sama. Polikultur harus menggabungkan ikan yang mempunyai kebiasaan makan yang berbeda dalam proporsi yang efektif memanfaatkan makanan alami. Jenis rumput laut yang dipolikultur adalah Gracilaria sp. yang dilakukan pada tambak bandeng maupun udang windu. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Menteri KKP Sharif C. Sutardjo  “Pola budidaya polikultur sendiri akan memadukan Gracilaria dengan udang windu dan bandeng dalam satu lahan tambak sehingga penggunaan lahan akan lebih efektif, di samping masyarakat dapat melakukan budidaya tiga komoditas dalam suatu area pada satu waktu. selain itu penerapan budidaya pola polikultur dapat menekan dilakukan untuk mengatasi serangan penyakit udang dibandingkan dengan pola monokultur.

 Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyebut bahwa potensi pengembangan budidaya pola polikultur masih sangat besar, karena banyak lahan kosong eks tambak udang yang terbengkalai dan tidak termanfaatkan. hal ini diharapkan mampu meningkatkan pendapat para petambak dan akhirnya dapat meningkatkan produksi rumput laut secara keseluruhan.

Tidak usah ragu dalam usaha budidaya polikultur rumput laut dengan udang maupun bandeng. Karena harga rumput laut jenis Gracilaria tingkat petambak tercatat sebesar Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per kilogram, sedangkan ditingkat pabrik mencapai Rp 6.000-Rp 7.100 per kg. Harga ini cenderung mengalami kenaikan dibandingkan awal tahun lalu yang hanya sebesar Rp 3.000 per kg.

produktivitas dari setiap hektar lahan, produksi rumput laut kering diperkirakan mencapai 2 ton dengan masa panen bervariasi, yakni rumput laut 45 hari, sementara untuk bandeng butuh waktu panen 6 bulan, dan udang windu selama 4 bulan. Selain dapat meningkatkan produktivitas, sistem ini juga dapat menekan biaya operasional serta resiko yang ditimbulkan oleh serangan penyakit pada udang atau pun bandeng sehingga dinilai lebih efisien.

Mari kita budidaya dengan sistem polikultur !

 

FISHERIES REFUGIA

Mengintegrasikan Perikanan dan Habitat
Manajemen: Perikanan refugia diLaut Cina Selatan

Abstrak:

 Catatan ini meliputi upaya untuk mengatasi over-eksploitasi perikanan. Meningkatkan tingkat
usaha penangkapan ikan, ditambah dengan terus menurunnya luas areal habitat penting bagi siklus hidup dari sebagian besar spesies, telah menimbulkan kekhawatiran serius bagi keberlanjutan jangka panjang dari perikanan rakyat.

Mengingat feed back loop antara stok ikan dan kualitas habitat di satu sisi, dan kegiatan penangkapan ikan dan habitat kualitas di sisi lain itu perlu untuk mengembangkan sebuah inisiatif regional bertujuan untuk meningkatkan manajemen stok ikan dan habitatnya.

Perikanan refugia adalah, “spasial dan geografis didefinisikan, laut atau pesisir daerah di mana tindakan pengelolaan khusus diterapkan untuk mempertahankan spesies penting [perikanan sumber] selama tahap-tahap kritis dari siklus hidup mereka, untuk digunakan berkelanjutan “muncul.

Konsep dalam perikanan refugia adalah suatu pendekatan yang berhasil untuk mengatasi hambatan yang signifikan untuk tindakan pengelolaan yang efektif yang alamat stok ikan dan habitat penting untuk tahap kritis dari siklus hidup dari saham-saham, yaitu merugikan reaksi terhadap konsep Kawasan Perlindungan Laut yang diperoleh dari masyarakat nelayan dan perikanan petugas di tingkat lokal dan provinsi. Hal ini diantisipasi bahwa pengalaman yang diperoleh selama ini daerah akan cocok untuk aplikasi di lain ekosistem laut besar di mana over-fishing dan penggunaan alat tangkap tidak sesuai ini menjadi hambatan yang signifikan untuk eksploitasi yang lebih berkelanjutan perikanan sumber daya. Pengalaman ini dianggap penting karena manfaat perikanan potensi global terkait dengan perikanan yang efektif dan pengelolaan habitat di tingkat lokal, yang sangat penting dalam kasus Asia Tenggara mengingat pentingnya melanjutkan perikanan terhadap ketahanan pangan, dan perawatan mata pencaharian.

URAIAN PROYEK
 spesies penting dianggap sepenuhnya dieksploitasi secara berlebihan.Proyek ini berjudul “Reversing Lingkunganpermintaan produk perikanan dan Degradasi Tren di Laut Cina Selatan dan
 ketergantungan masyarakat pesisir pada ikan untuk Teluk Thailand “didanai oleh Global makanan dan hasil pendapatan dalam peningkatan terus Lingkungan Facility (GEF) dan dilaksanakan oleh
 dalam upaya memancing. Hal ini mengakibatkan “memancing menuruni PBB Program Lingkungan
 makanan laut rantai “dan ketergantungan meningkatkan (UNEP) dalam kemitraan dengan tujuh negara pantai sektor rakyat pada saham pelagis kecil berbatasan dengan Laut Cina Selatan.

 Proyek ini dilakukan karena penurunan di spesies demersal. membahas tiga bidang prioritas yang menjadi perhatian Ketersediaan ikan menurun telah menyebabkan destruktif
 diidentifikasi dalam Diagnostik Lintas Batas penangkapan ikan yang oleh beberapa nelayan untuk
 Analisis (TDA) yaitu kerugian dan mempertahankan pendapatan dan produksi pangan dalam degradasi habitat pesisir, eksploitasi berlebihan jangka pendek. Perikanan tren menunjukkan bahwa
 perikanan di Teluk Thailand, dan lahan produksi dari perikanan tangkap akan menurun berbasis polusi. Asli hasil dan selama tahun-tahun mendatang kecuali usaha penangkapan total dan output dari proyek ini diantisipasi sebagai:
 kapasitas dikurangi. Masalah yang jelas dalam Aksi Program disetujui Strategis
 pengurangan kapasitas perikanan adalah bahwa sebagian besar tindakan ditargetkan dan dihitung biayanya, sebuah direkomendasikan perikanan skala kecil dengan mayoritas
 kerangka untuk meningkatkan kerjasama regional di peserta yang sangat tergantung pada perikanan
 pengelolaan lingkungan di untuk pangan, pendapatan dan kesejahteraan (Paterson et al. Laut Cina Selatan; serangkaian nasional dan 2006).
regional rencana habitat spesifik

dan isu-isu; sembilan manajemen demonstrasi
Sementara tindakan yang bertujuan untuk mengurangi laju kehilangan
kegiatan di situs dari regional dan global
habitat pesisir penting untuk perikanan
signifikansi; sistem refugia untuk mempertahankan
telah dilaksanakan oleh negara-negara
penting ikan saham lintas batas di Teluk
berbatasan dengan Laut Cina Selatan, yang decadal
Thailand, dan kegiatan percontohan yang berkaitan dengan
tingkat kehilangan habitat tersebut tetap tinggi:
alternatif tindakan perbaikan untuk mengatasi prioritas
lamun (30%); mangrove (16%), dan karang
lintas batas polutan. Catatan ini merangkum
terumbu (16%) (UNEP, 2007a). Meningkatkan tingkat
pengalaman proyek dalam membangun sebuah
usaha penangkapan ikan, ditambah dengan terus menurunnya
awal daerah sistem perikanan refugia di
total luas habitat penting bagi kehidupan-siklus
Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand. Ia menarik
dari sebagian besar spesies, telah menyuarakan keprihatinan serius
pada Dokumen Pengetahuan Cina Selatan Laut
untuk keberlanjutan jangka panjang dari rakyat
tentang Perikanan refugia diterbitkan pada Oktober 2007
perikanan di wilayah tersebut. Dilema untuk
(UNEP, 2007a1).
perikanan dan sektor lingkungan adalah bahwa

konservasi habitat tidak tentu
PENGALAMAN ATAS
mengakibatkan stok ikan meningkat, dan penurunan

usaha penangkapan tidak selalu menghasilkan
Isu
meningkatkan kondisi habitat. Meskipun ikan

produksi intrinsik terkait dengan kualitas
Ikan saham di Laut Cina Selatan dan Teluk
dan luas habitat, dan meskipun
Thailand dikenakan tingkat tinggi memancing
ketergantungan masyarakat pesisir pada ikan untuk
usaha, sehingga saham yang paling ekonomis
makanan dan pendapatan tinggi, pemahaman ini

keterkaitan sangat terbatas, sehingga memancing intensif di
1 Semua dokumen proyek terkait dikutip dalam makalah ini dapat
perairan pantai daerah telah diidentifikasi sebagai faktor
ditemukan di situs web proyek di http://www.unepscs.org.
2
berkontribusi terhadap degradasi lanjutan dan
antara stok ikan dan habitat; rendahnya tingkat
hilangnya padang lamun dan habitat terumbu karang dan
penerimaan masyarakat “dilindungi” area-
terkait keanekaragaman hayati di wilayah tersebut (UNEP,
berbasis pendekatan untuk manajemen kelautan di
2006a).
Asia Tenggara, dan, pengalaman terbatas dalam

nasional perikanan dan departemen lingkungan
Kenyataan bahwa banyak perikanan laut di Sulawesi Tenggara
dan pelayanan sehubungan dengan
Asia berlebihan dikapitalisasi, tidak diatur, dan
pelaksanaan perikanan yang terintegrasi dan
sasaran penangkapan ikan secara ilegal telah memberikan
pengelolaan habitat pendekatan (UNEP,
dorongan untuk pengembangan inovatif
2006b).
pendekatan untuk pengelolaan perikanan di

wilayah tersebut. Usaha signifikan yang dibuat dalam
Pendekatan
sebagian besar negara untuk mendesentralisasikan tanggung jawab

untuk manajemen perikanan ke tingkat lokal dengan
Grup UNEP / GEF Kerja Regional
tujuan untuk membangun ko-manajemen
Perikanan (RWG-F) sepakat bahwa, diberi pakan yang
terutama stok ikan demersal (Lundgren et
kembali loop antara stok ikan dan habitatnya
al. 2006). Namun, hubungan intrinsik
kualitas di satu sisi, dan memancing kegiatan
antara stok ikan dan habitatnya
dan kualitas habitat di sisi lain itu perlu
mengharuskan bahwa manajemen perikanan
untuk mengembangkan inisiatif regional yang bertujuan
melibatkan terdesentralisasi dan berbasis hak
meningkatkan hubungan yang efektif antara ikan
sistem akan perlu untuk memasukkan strategi yang
saham dan habitat. Fol karena peninjauan
mendorong peningkatan pengelolaan stok ikan
ada perikanan dan pengelolaan habitat
dan terkait hubungan habitat kritis.
inisiatif di kawasan itu, RWG-F dicatat bahwa beberapa

ini fokus pada tujuan di atas dan
Tantangan
sepakat untuk menguraikan sistem perikanan

pengelolaan kawasan (Perikanan refugia) di
Kompleksitas ancaman utama bagi habitat dan
Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand yang
keanekaragaman hayati mengharuskan lintas sektoral yang memadai
berfokus pada hubungan kritis antara stok ikan
konsultasi antara perikanan dan lingkungan
dan mereka habitat. Tujuan jangka panjang dari
departemen di setiap negara khususnya di
sistem akan membangun ketahanan
sehubungan dengan penunjukan Kelautan Lindung
Asia Tenggara perikanan terhadap efek tinggi
Daerah dan zona manajemen lainnya habitat di
dan meningkatkan tingkat usaha penangkapan (UNEP,
memesan untuk memastikan bahwa wilayah yang ditetapkan untuk
2006b).
perlindungan adalah kongruen dengan sangat penting

habitat daerah untuk stok ikan.
Mendefinisikan Konsep Perikanan refugia

Gagasan untuk meningkatkan integrasi
Para RWG-F mempromosikan penggunaan yang luas
pertimbangan mengenai habitat ikan dengan lainnya
berbasis definisi refugia (lihat Kotak Informasi
aspek manajemen perikanan merupakan
1) untuk identifikasi perikanan refugia untuk
signifikan tantangan dalam hal itu melibatkan
“Ganti” yang hilang karena over-eksploitasi dan
penggabungan dua terkait tetapi, sampai saat ini, sangat
perusakan habitat perikanan. Saat ini sudah ada
berbeda manajemen domain. Habitat, pertama
pemahaman bersama dan luas bahwa
manajemen, bertujuan untuk menjaga fungsional
perikanan refugia berhubungan dengan bidang-bidang tertentu
integritas dan keanekaragaman hayati dari ekosistem melalui
makna penting bagi siklus hidup spesies tertentu,
tindakan difokuskan pada atribut biofisik
dan bahwa mereka harus didefinisikan dalam ruang dan
sistem ini. Yang kedua, perikanan
waktu, dan berfungsi melindungi pemijahan
manajemen, bertujuan untuk mengamankan berkelanjutan
agregasi, alasan pembibitan, dan migrasi
kembali dari sumber daya gunakan melalui tindakan
rute. (Lihat kotak teks pada halaman berikutnya)
berfokus pada hubungan antara nelayan

kegiatan dan spesies sasaran. Hambatan untuk
Penyebarluasan Informasi tentang
tindakan yang efektif diakui, yaitu: terbatas
Perikanan refugia Konsep
informasi mengenai ikan siklus hidup dan kritis

habitat hubungan dan peran yang habitat laut
Dalam rangka mempromosikan pengarusutamaan dari
bermain dalam mempertahankan perikanan; rendahnya tingkat
konsep dalam perikanan dan lingkungan
pemahaman di antara pemangku kepentingan, termasuk
sektor, dan untuk meningkatkan dan mempertahankan komunitas
nelayan rakyat, ilmuwan, pembuat kebijakan, dan
partisipasi dalam inisiatif tersebut, RWG-F
perikanan dan manajer habitat keterkaitan
menyebarkan informasi pada konsep refugia
3
T
penerbitan “Pedoman Daerah pada
HE RWG-F DEFINISI
F
Gunakan Perikanan refugia untuk Berkelanjutan
ISHERIES refugia

Manajemen Perikanan Tangkap di Sulawesi Tenggara
Perikanan refugia dalam konteks UNEP / GEF
Asia “sebagai bagian dari ASEAN-SEAFDEC Daerah
Laut Cina Selatan Proyek didefinisikan sebagai:
Pedoman untuk Perikanan yang bertanggung jawab di
“Secara spasial dan geografis didefinisikan, laut
Asia Tenggara. Pedoman ini memberikan
atau wilayah pesisir yang spesifik
negara peserta dengan kebijakan yang efektif
pengelolaan diterapkan untuk mempertahankan
platform untuk elaborasi konsep tersebut di
penting spesies [sumber daya perikanan] selama
baik nasional dan regional. Hasil
penting tahapan siklus hidup mereka, karena mereka
masyarakat luas dan stakeholder
pemanfaatan berkelanjutan. “

konsultasi dalam negara peserta
Perikanan refugia harus:
selama tahun 2005 dan 2006 menunjukkan bahwa refugia
TIDAK menjadi “tidak mengambil zona”,
Konsep ini juga diterima dengan baik oleh skala kecil
Memiliki tujuan penggunaan yang berkelanjutan untuk
memancing masyarakat dan pejabat setempat (UNEP,
menguntungkan generasi sekarang dan masa depan,
2007b).
Menyediakan beberapa daerah dalam refugia menjadi

ditutup untuk selamanya karena kritis mereka
Sampai saat ini masyarakat nelayan di Kamboja,
pentingnya [kontribusi penting] untuk kehidupan
Filipina, dan Vietnam telah menyatakan mereka
siklus suatu spesies atau kelompok spesies,
kuat dukungan untuk pembentukan dan
Fokus pada daerah-daerah sangat penting dalam
siklus hidup spesies ikan, termasuk
pengelolaan perikanan refugia di daerah
pemijahan dan pembibitan alasan, atau bidang
kritis perikanan habitat. Thailand adalah
habitat yang diperlukan untuk pemeliharaan induk
berhasil menggunakan konsep tersebut untuk mencapai
saham,
pemanfaatan berkelanjutan 50.000 km2 habitat kritis
Memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan
sepanjang pantai barat Teluk Thailand
mereka tujuan dan spesies atau spesies
untuk spesies regional yang signifikan, dan memiliki
kelompok yang mereka ditetapkan dan
diusulkan rencana untuk mengembangkan area tambahan sebagai
di mana langkah-langkah manajemen yang berbeda
refugia di Teluk timur Thailand (UNEP,
wil berlaku,
2007b; 2007c). Demikian pula, Lembaga Penelitian
Memiliki rencana pengelolaan.

untuk Perikanan Laut Departemen Vietnam dari
Manajemen langkah-langkah yang dapat diterapkan
Perikanan baru-baru ini bermitra dengan
dalam perikanan refugia dapat ditarik dari
Departemen Lingkungan dan Ilmu
berikut [tidak komprehensif] daftar:
Kien Giang Provinsi untuk membangun dan mengelola
Pengecualian dari metode penangkapan ikan (misalnya cahaya
perikanan refugia situs yang mencakup 10.000 ha
memikat, memancing purse seine),
lamun daerah di pantai timur dari Phu Quoc
Dibatasi roda gigi (misalnya ukuran mesh),
Island (UNEP, 2007c).
Dilarang roda gigi (jaring dorong misalnya, demersal

trawl),
Identifikasi Perikanan refugia: Kritis
Kapal ukuran / kapasitas mesin,
Musiman penutupan selama periode kritis,
Pemijahan dan Tk Daerah
Musiman pembatasan (misalnya penggunaan tertentu

peralatan yang mungkin perangkap larva),
Para RWG-F dicatat bahwa populasi ikan kebanyakan
Terbatasnya akses dan penggunaan berbasis hak
rentan terhadap dampak dari penangkapan ikan yang berlebihan di daerah
pendekatan dalam skala kecil perikanan.
dan pada waktu di mana ada kelimpahan yang tinggi
(A) saham dalam kondisi pemijahan, (b) remaja dan
melalui: perikanan regional dan nasional dan
pra-merekrut, atau (c) pra-calon migrasi ke
lingkungan forum; nasional ahli, stakeholder,
memancing dasar. Saat itu disorot bahwa
dan masyarakat konsultasi; penerbitan
dampak over-fishing yang intensif dalam
seri artikel populer di konsep, dan
contoh di mana nelayan berskala kecil dan
dipromosikan secara online melalui konsep Selatan
nelayan komersial berbagi saham yang sama, sering
Laut Cina Proyek website. Konsep ini memiliki
menyebabkan sengketa dampak relatif dari
diterima dengan baik di semua tingkat, dan telah
setiap kelompok. Remaja dan pra-calon sering
dikompensasi adalah negara-negara peserta untuk membangun
tertangkap di perairan pantai wilayah oleh nelayan berskala kecil,
kemitraan dan untuk meningkatkan komunikasi
sementara nelayan komersial menangkap orang dewasa dari
antara sektor perikanan dan lingkungan.
sama spesies lepas pantai. Dalam keadaan seperti

karena hal ini, tinggi tingkat usaha penangkapan di perairan pantai
Konsep refugia juga telah diterima dengan baik
perairan dapat mendorong pertumbuhan over-fishing, sedangkan
di tingkat regional dan telah menyebabkan
situasi yang sama di daerah lepas pantai dapat
4

menyebabkan perekrutan over-fishing yang sama
kolaboratif program teknis
saham. Disepakati bahwa penggunaan perairan pantai
konsultasi, pertemuan kelompok kerja, dan
pembibitan refugia untuk melindungi ikan selama remaja
pelatihan lokakarya, yang bertujuan untuk meningkatkan
dan pra-merekrut fase dari siklus hidup mereka bisa
ilmiah dasar untuk identifikasi perikanan
membantu dalam pencegahan pertumbuhan over-fishing,
refugia disepakati antara Cina Selatan
sedangkan refugia pemijahan dapat membantu dalam
Laut Proyek dan Perikanan Asia Tenggara
pencegahan rekrutmen over-fishing (Lampiran 5
Pusat Pengembangan (SEAFDEC) selama tahun 2006.
UNEP, 2006b).

SEAFDEC telah bekerja dengan anggota
Para RWG-F sepakat untuk mengumpulkan informasi tentang
RWG-F untuk mengembangkan program kerja untuk
kritis pemijahan dan pembibitan untuk wilayah penting
meninjau ikan masa lalu dan yang sedang berlangsung awal kehidupan sejarah
lintas batas spesies ikan termasuk
penelitian kerja dan untuk mengumpulkan informasi tentang
identifikasi Cina UNEP / GEF South Sea
dikenal pemijahan dan pembibitan untuk wilayah penting
Habitat Situs Demonstrasi proyek yang
ikan spesies termasuk pemanfaatan telur ikan
kritis perairan pantai pembibitan untuk refugia penting
dan larva dikumpulkan selama perikanan
demersal spesies, identifikasi lokasi
sumber penilaian survei oleh M.V.
di Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand yang
SEAFDEC 2 di Laut Cina Selatan sejak tahun 2004.
dimanfaatkan oleh spesies pelagis penting bagi
Untuk membangun keahlian teknis dalam berpartisipasi
pemijahan, dan evaluasi yang ada
negara untuk analisis telur ikan dan larva
pengelolaan perikanan daerah yang mungkin memenuhi syarat
sampel, Laut Cina Selatan Proyek memiliki
sebagai perikanan refugia. Informasi ini digunakan
memulai program pelatihan kolaboratif dengan
untuk daftar dan mengkarakterisasi pemijahan ikan dikenal dan
SEAFDEC pada Identifikasi Ikan larva dan Ikan
pembibitan daerah (Lampiran 4 dari UNEP, 2007b) dan
Kehidupan Awal Sejarah Sains. Peserta dalam
yang RWG-F terakhir daftar situs dalam kaitannya
acara pelatihan telah membentuk tim nasional
untuk informasi
distribusi dan
kelimpahan ikan
telur dan larva dalam
China Selatan
Laut selama pasca
monsoon timur laut
periode dari 1996 –
1999 dan
hasil dari
negara
konsultasi mengenai
identifikasi
perikanan
refugia.
Kelompok ini setuju
pada 14 tempat prioritas
untuk dimasukkan dalam
awal sistem
perikanan
refugia,
dan tambahan 9
situs yang
informasi lebih lanjut diperlukan sebelum mereka
Gambar 1
Lokasi: pemijahan dikenal dan daerah pembibitan
dimasukkan dalam sistem (Gambar 1).
lintas batas spesies ikan []; lokasi awal dipilih untuk dimasukkan dalam daerah

sistem refugia []; situs prioritas tinggi untuk dimasukkan dalam sistem regional
sekali set awal ditetapkan
Meningkatkan Dasar Ilmiah untuk
Identifikasi Perikanan refugia
bertanggung jawab untuk memproses sampel yang diperlukan

untuk meningkatkan dasar ilmiah untuk
Awal kendala dalam identifikasi perikanan
identifikasi pemijahan ikan penting dan
refugia berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
pembibitan daerah. Pelatihan bahan yang digunakan sebagai bagian dari
sejarah awal kehidupan dari mayoritas yang signifikan
program peningkatan kapasitas dapat
spesies di Laut Cina Selatan dan Teluk
diakses dengan mengunjungi
Thailand. Dalam kaitan ini, pengembangan
http://www.unepscs.org/training.html.
5

Laut dimana over-fishing dan penggunaan
HASIL DAN BELAJAR
alat tangkap tidak sesuai adalah signifikan

hambatan terhadap eksploitasi lebih berkelanjutan
Hasil asli dari proyek ini adalah hanya
sumber daya perikanan. Konsep ini juga di bawah
diantisipasi sebagai “sebuah sistem untuk refugia
pertimbangan oleh anggota Ilmiah
memelihara ikan lintas batas penting
Komite Barat dan Pasifik Tengah
saham di Teluk Thailand berdasarkan
Perikanan Komisi untuk digunakan dalam
perlindungan laut area yang diidentifikasi sebagai kritis
pengelolaan sediaan ikan tuna di Barat
habitat untuk konservasi ikan saham dan
Pasifik.
perlindungan “menyediakan. Dokumen proyek tidak

panduan tentang definisi dari apa yang
Banyak masa lalu kawasan perlindungan laut didirikan
merupakan “perikanan refugia”, atau kriteria untuk
seluruh dunia telah dipromosikan dalam hal
menilai kepentingan relatif dari individu
potensi mereka untuk memperbaiki keadaan perikanan
daerah sebagai refugia potensial. Apa yang telah menghasilkan
dan habitat mereka, tetapi jarang termasuk
dari karya F-RWG adalah: (a) daftar
mekanisme untuk memastikan integrasi yang efektif
demersal jenis ikan, krustasea dan
perikanan pertimbangan ke manajemen. Di
moluska signifikansi lintas batas di
Sebaliknya perikanan departemen dan kementerian
daerah, (b) daftar 52 pemijahan dikenal dan
sebagian besar fokus pada pencapaian hasil yang berkelanjutan
pembibitan bidang yang telah diprioritaskan 14
dari stok ikan. Pengalaman di Cina Selatan
sebagai set awal dan 9 selanjutnya diberikan tinggi
Laut Proyek menunjukkan bahwa co-lintas sektoral
prioritas untuk dikembangkan sebagai refugia (c) kriteria untuk
pentahbisan dapat dicapai melalui perikanan
mendefinisikan perikanan refugia, dan, (d)
refugia konsep yang telah menyediakan platform untuk
intergovernmentally disetujui pedoman untuk
bangunan kemitraan dan meningkatkan
pembentukan perikanan refugia yang merupakan
komunikasi antara lingkungan dan
bagian dari ASEAN SEAFDEC Daerah
perikanan sektor.
Pedoman untuk Perikanan yang bertanggung jawab di

Asia Tenggara (lihat SEAFDEC, 2006). Terkait
Tantangan kedua yang diantisipasi dalam mereplikasi
informasi dan output dapat diakses oleh
pengalaman adalah menghasilkan dukungan yang cukup di
mengunjungi Perikanan refugia Informasi Portal
memancing tingkat masyarakat bagi diusulkan
di http://refugia.unepscs.org.
intervensi. Saat ini banyak skala kecil

nelayan, manajer perikanan, dan
Tampaknya konsep refugia adalah
pejabat pemerintah daerah menyamakan berbasis wilayah
sukses pendekatan untuk menangani signifikan
(Zonasi) pendekatan untuk pengelolaan perikanan
penghalang untuk tindakan pengelolaan yang efektif yang
sebagai setara tanpa mengambil Perlindungan Laut
alamat stok ikan dan habitat penting untuk
Area (MPA). Yang terakhir ini sering dipandang sebagai
tahap kritis dari siklus hidup dari saham-saham,
tidak dapat diterima di tingkat masyarakat nelayan
yaitu reaksi yang merugikan Marine
karena mereka jarang yang ditunjuk di lokasi
Kawasan Lindung konsep yang diperoleh dari
penting bagi siklus hidup ikan penting
nelayan dan petugas perikanan di
spesies dan stok ikan tidak meningkatkan, maupun
lokal dan provinsi. Dengan menekankan
masyarakat pendapatan. Hasil bersih dari
“Pemanfaatan berkelanjutan” aspek refugia bukan
mendirikan MPA klasik telah hilangnya
“tidak-mengambil” pendekatan yang diadopsi oleh banyak
memancing daerah untuk nelayan berskala kecil dan non-
kementerian lingkungan dalam pendekatan mereka untuk
kepatuhan terhadap manajemen perikanan
laut kawasan lindung reaksi merugikan adalah
langkah-langkah dalam “dilindungi” area.
dihindari. Lebih penting lagi mungkin perikanan

refugia konsep, karena sedang dipromosikan oleh
SIGNIFIKANSI
perikanan departemen, memberikan awal

platform untuk dialog antara pemerintah
Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand adalah
bertanggung jawab untuk lingkungan dan untuk lembaga
global yang tengah perairan dangkal laut biologis
perikanan.
keragaman, mendukung perikanan dunia yang signifikan

yang penting untuk keamanan pangan, dan sebagai
REPLIKASI
sumber pendapatan ekspor, Asia Tenggara

negara. Pendaratan dari daerah ini memberikan kontribusi
Hal ini diantisipasi bahwa pengalaman yang diperoleh selama
sekitar 10 persen dari global dilaporkan
wilayah ini akan cocok untuk aplikasi di lain
Produksi perikanan per tahun dan membuat
besar ekosistem laut seperti Kuning
signifikan kontribusi bagi ekonomi
6

negara yang berbatasan dengan Teluk Thailand dan
Lamun yang Sub-Komponen.
Laut Cina Selatan. Mayoritas perikanan adalah
UNEP/GEF/SCS/RWG-SG.7/3.
skala kecil di alam, dan ikan yang mendarat di
UNEP, 2006b. Reversing Lingkungan
besar jumlah lokasi desentralisasi untuk
Degradasi Tren Laut Cina Selatan
distribusi melalui jaringan pemasaran yang kompleks
dan Teluk Thailand. Laporan Keenam
di tingkat masyarakat. Sebagai konsekuensinya
Rapat Kelompok Kerja Regional
perkiraan produksi perikanan dianggap
Perikanan. UNEP / GEF / SCS / RWG-F.6 / 3.
menjadi meremehkan kotor dan tidak
UNEP, 2007a. Tata Cara Membangun
cukup mencerminkan pentingnya
Daerah Sistem Perikanan refugia di
rakyat atau subsisten produksi ke
Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand di
sektor perikanan secara keseluruhan.
konteks proyek UNEP / GEF berjudul:

“Reversing Kerusakan Lingkungan
Seperti disebutkan di atas tingkat decadal penurunan
Tren di Laut Cina Selatan dan Teluk
total wilayah habitat kritis seperti rumput laut,
Thailand “Cina Selatan. Laut Pengetahuan
terumbu karang, dan mangrove saat ini
Dokumen No 4. UNEP/GEF/SCS/Inf.4.
diperkirakan sebesar 30%, 16%, dan 16% masing-masing.
UNEP, 2007b. Reversing Lingkungan
Perikanan memberikan kontribusi terhadap kerugian dan degradasi
Degradasi Tren Laut Cina Selatan
habitat lamun dan terumbu karang dan
dan Teluk Thailand. Laporan Kedelapan
prestasi dari komponen perikanan dari
Rapat Kelompok Kerja Regional
Laut Cina Selatan Proyek telah signifikan
Perikanan. UNEP/GEF/SCS/RWG-F.8/3.
dalam mengembangkan, kelembagaan ilmiah, dan
UNEP, 2007c. Reversing Lingkungan
kebijakan dasar yang dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kehilangan
Degradasi Tren Laut Cina Selatan
habitat yang signifikan secara global dan keanekaragaman hayati
dan Teluk Thailand. Laporan Kesembilan
karena memancing. Hal ini dianggap penting
Rapat Kelompok Kerja Regional
karena manfaat perikanan potensi global
Perikanan. UNEP/GEF/SCS/RWG-F.9/3.
terkait dengan perikanan yang efektif dan habitat

manajemen di tingkat lokal, yang
KATA KUNCI
sangat penting dalam kasus Tenggara

Karena pentingnya melanjutkan Asia
Perikanan
perikanan untuk ketahanan pangan, dan pemeliharaan
Refugia,
mata pencaharian.
Habitat

Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand
REFERENSI

TAMBAHAN GRAPHICS
Lundgren, R., Staples, D.J., Funge-Smith,

S.J. dan Clausen, J. 2006. Status dan
potensi perikanan dan akuakultur di Asia
dan Pasifik 2006. FAO Regional Office
untuk Asia dan Pasifik. RAP Publikasi
2006/22. 62pp.
Paterson, C, Coba, I., Tambunan, P., Barut,
N., Saikliang, P., Dao, M.S., dan Chullasorn,
S. 2006. Membangun Sistem Daerah
Perikanan refugia. Ikan untuk Rakyat, 4 (1):
22-27.
SEAFDEC, 2006. Tambahan Pedoman
pada Co-Manajemen Menggunakan User Group

Hak, Perikanan Statistik, Indikator, dan
Distribusi dan kelimpahan larva ikan (semua
Perikanan refugia. Asia Tenggara
spesies gabungan) di Laut Cina Selatan dan
Pusat Pengembangan Perikanan, Bangkok,
Teluk Thailand selama pasca-timur laut
Thailand. 84pp.
hujan periode dari 1996-2000, oleh Dr
UNEP, 2006a. Reversing Lingkungan
Somboon Siriraksophon.
Degradasi Tren Laut Cina Selatan

dan Teluk Thailand. Laporan Ketujuh
Rapat Kelompok Kerja Regional untuk
7

Memancing konsultasi masyarakat pada
identifikasi dan pembentukan perikanan

Larva spesimen Scomberoides spp. dikumpulkan
refugia di Masinloc di Filipina, oleh Mr
dari Laut Cina Selatan sebagai bagian dari
Noel Barut.
perikanan refugia program pelatihan, oleh Dr

Yoshinobu Konishi

Provinsi perikanan dan tentara perbatasan
bekerja di laut dengan nelayan dan staf Kien

Giang Departemen Lingkungan Hidup untuk peta
Screenshot dari refugia Informasi Perikanan
perikanan refugia di Phu Quoc Island di Viet Nam,
Portal situs (http://refugia.unepscs.org)
oleh Christopher Paterson.

Fasilitas Lingkungan Global (GEF)
International Waters Pengalaman Catatan seri
membantu pengelolaan air lintas batas
(Twm) komunitas berbagi praktis
pengalaman untuk mempromosikan twm lebih baik.
Pengalaman termasuk praktek sukses,
pendekatan, strategi, pelajaran, metodologi,
dll, yang muncul dalam konteks twm.

Untuk memperoleh Catatan IW Pengalaman saat ini atau untuk
memberikan kontribusi Anda sendiri, silakan kunjungi
http://www.iwlearn.net/experience atau email
info@iwlearn.net.

Skema representasi dari jenis refugia di
sehubungan dengan siklus hidup-generalisasi dari demersal
laut ikan, oleh Christopher Paterson.